Para ahli ekonomi
memperingatkan bahwa dunia sedang berada di ambang perang dagang habis-habisan,
yang menampilkan aksi saling balas, retorika yang memanas, dan seruan kepada
WTO, yang mungkin tidak siap untuk menanggapi. Ketika permintaan runtuh, negara-negara
berebut untuk mempertahankan cadangan emas mereka dengan mendevaluasi mata uang
mereka, atau memberlakukan lebih banyak lagi hambatan perdagangan.
Isu perang dagang
antara Cina dan Amerika Serikat kembali menguat menyusul pelantikan Donald
Trump sebagai presiden Amerika Serikat. Cina mencoba mengendurkan ketegangan,
namun Trump tetap bergeming.
Donald Trump
berulangkali mengecam kebijakan dagang Cina dan mengancam bakal menghukum
Beijing dengan menaikkan pajak impor menjadi 45%. Ia juga menuding Cina
memanipulasi nilai mata uangnya sendiri untuk mengebiri daya saing produsen
Amerika.
Cina pun membalas. Beijing
bisa mempersulit aktivitas dagang perusahaan-perusahaan besar AS seperti Apple,
General Motors dan Boeing. Selain itu ekspor kedelai AS ke Cina pun bisa
terganggu. Khususnya ekspor produk agrikultur menjadi kepentingan petani AS
yang sebagian besar memilih Trump. (www.dw.com
diakses tanggal 10 Mei 2018)
APA ITU PERANG DAGANG?
Kamus mengatakan bahwa itu adalah “sebuah konflik
ekonomi di mana negara memberlakukan pembatasan impor satu sama lain, untuk
merugikan perdagangan satu sama lain.” Hal ini sama dengan yang dilakukan Trump
dan pembalsan yang dilakukan Cina.
Eskalasi baru-baru ini
memicu kekhawatiran bahwa Trump telah memicu perang dagang penuh, dengan
menunjuk China, sebagai pembalasan atas pencurian kekayaan intelektual.
Tindakan saling balas oleh AS dan China atas tarif baja, seruan Trump terhadap
keamanan nasional untuk membenarkan beberapa langkahnya—yang bisa membuka Kotak
Pandora dari klaim serupa oleh negara lain—dan ancaman Trump untuk lebih lanjut
menghukum Uni Eropa, jika Uni Eropa memberlakukan counter-duties (bantuan untuk
mengimbangi dampak subsidi oleh negara pengekspor), juga menambah suasana
perang dagang. (Diberitakan oleh www.time.com
27 Maret 2018)
APA YANG TELAH DILAKUKAN AMERIKA SERIKAT?
Dia memberlakukan tarif hingga $60 miliar dari
produk yang belum ditentukan, yang diimpor dari China, sebagai pembalasan atas
apa yang ia sebut sebagai pencurian kekayaan intelektual selama puluhan tahun.
Dia memberlakukan tarif 25 persen dan 10 persen, masing-masing, pada impor baja
dan aluminium, yang mendorong China untuk mengatakan bahwa negaranya dapat
membalas dengan tarifnya sendiri. Walau ia sementara mengesampingkan para
sekutu—termasuk Uni Eropa—dari tarif logam, namun ia mengharapkan mereka untuk
memberikan kesepakatan kepada AS, untuk mempertahankan pengecualian tersebut.
APA YANG TELAH DILAKUKAN CINA?
Sejauh ini, China mengatakan akan menyerang minuman
anggur, buah, pipa baja, dan ekspor lainnya dari AS senilai $3 miliar, dengan
tarif. Kecemasan yang lebih besar bagi AS adalah bahwa China—yang merupakan
kreditur terbesar AS—akan mengurangi pembelian obligasi sebagai pembalasannya.
Duta Besar China untuk AS tidak mengesampingkan opsi tersebut. Negara-negara
lain belum melakukan pembalasan untuk tarif baja dan aluminium tersebut—yang
mulai berlaku pada tanggal 23 Maret—sebagian besar karena Trump sementara
mengecualikan banyak di antara mereka.
Namun, Uni Eropa tidak
senang, dan memperingatkan akan menanggapi dengan tarif 25 persennya sendiri
pada barang-barang Amerika senilai $3,5 miliar, khususnya merek AS yang ikonik
yang diproduksi di negara yang merupakan bagian dari basis politik Trump.
Daftar ini termasuk sepeda motor, celana jins biru, dan wiski bourbon. Pada
gilirannya, Trump memperingatkan bahwa ia akan mengenakan penalti sebesar 25
persen pada impor mobil Eropa, jika Uni Eropa melakukan ancamannya.
KAITANNYA DENGAN TEORI
Teori Heckscher-Ohlin memprediksi bahwa
negara-negara akan mengekspor barang-barang yang membuat penggunaan intensif
terhadap faktor-faktor yang secara lokal melimpah, sementara impor barang yang
membuat penggunaan intensif terhadap faktor-faktor yang secara lokal langka.
Teori Heckscher-Ohlin berpendapat bahwa pola perdagangan internasional
ditentukan oleh perbedaan dalam faktor pendukung, daripada perbedaan
produktifitas. Seperti Amerika Serikat yang telah lama menjadi eksportir besar
barang-barang pertanian, mencerminkan sebagian kelimpahan yang tidak biasa dari
tanah yang subur.
Teori Neomerkantilis
menyamakan kekuasaan politik dengan kekuatan ekonomi dan kekuatan ekonomi
dengan surplus neraca perdagangan. Para politikus berpendapat bahwa banyak
negara telah mengadopsi strategi neomerkantilis yang dirancang untuk secara
bersamaan meningkatkan ekspor dan membatasi impor. Misalnya, politikus menuduh
bahwa China sedang mengejar kebijakan neomerkantilis, sengaja menjaga nilai
mata uangnya terhadap dollar AS supaya menjual lebih banyak barang ke Amerika
Serikat, dan dengan demikian mengumpulkan surplus perdagangan dan cadangan
devisa (Hill et al, 2014:hlm 189)
DAMPAK BAGI PERDAGANGAN DUNIA
Lantaran sikap proteksionisme Amerika Serikat (AS),
pertemuan Menteri Keuangan dan Gubernur Bank Sentral negara-negara G20 gagal
mencapai kesepakatan untuk menjaga komitmen perdagangan internasional yang
saling menguntungkan. Menteri Keuangan Sri Mulyani menilai, sikap
proteksionisme AS akan berdampak buruk kepada kondisi ekonomi internasional.
Apalagi bila kebijakan itu mulai ditiru negara-negara lainnya.
"Yang terjadi
adalah perang dagang dan mungkin perang mata uang yang pasti sifatnya akan
destruktif ke semua negara," ujar perempuan yang kerap disapa Ani itu saat
konferensi pers, Jakarta, Rabu (22/3/2017).(Diberitakan oleh Kompas.com22 Maret
2017)
Perang dagang yang
digulirkan AS dan China dapat memberikan dampak yang sangat buruk terhadap
perekonomian dunia. Hal ini diungkapkan oleh Organisasi Perdagangan Dunia (
WTO). Direktur Jenderal WTO Roberto Azevedo, seperti dikutip dari BBC, Minggu
(1/4/2018), mengatakan ada risiko bahwa perang dagang akan sebabkan anjloknya
pertumbuhan ekonomi global. Komentar Azevedo tersebut sejalan dengan
meningkatnya ketegangan perdagangan antara AS dengan China, ditandai penerapan
tarif impor antara kedua negara tersebut. "Saat ini WTO mengalami salah
satu periode terberatnya," jelas Azevedo. Pekan lalu, Presiden AS Donald
Trump mengumumkan tarif impor terhadap barang-barang impor dari China dengan
total nilai sekira 60 miliar dollar AS. (Diberitakan oleh Kompas.com 01 April
2018)
Beijing pun merespon
dengan menyatakan tidak takut dengan perang dagang yang diserukan Trump, namun
menuntut negosiasi harus tetap dilakukan.
Azevedo menyebut, meskipun perang dagang global belum diinisiasi, namun dunia sudah melihat tanda-tanda pertama kekhawatiran tersebut. Awal bulan ini, AS mengumumkan pengenaan tarif impor untuk produk baja dan alumunium dari sejumlah negara, termasuk China. Beijing pun membalas dengan rencana pengenaan tarif impor untuk produk-produk AS. Menurut Azevedo, skala kehancuran yang diakibatkan dari perang dagang tergantung dari arah perang dagang itu sendiri.
Azevedo menyebut, meskipun perang dagang global belum diinisiasi, namun dunia sudah melihat tanda-tanda pertama kekhawatiran tersebut. Awal bulan ini, AS mengumumkan pengenaan tarif impor untuk produk baja dan alumunium dari sejumlah negara, termasuk China. Beijing pun membalas dengan rencana pengenaan tarif impor untuk produk-produk AS. Menurut Azevedo, skala kehancuran yang diakibatkan dari perang dagang tergantung dari arah perang dagang itu sendiri.
Pemerintah
Amerika Serikat mengakui, ada risiko terjadinya perang dagang yang sesungguhnya
dengan China. Hal ini diungkapkan langsung oleh Menteri Keuangan AS Steve
Mnuchin. "Ada potensi (terjadinya) perang dagang," jelas Mnuchin
seperti dikutip dari CBS News, Sabtu (7/4/2018). Pernyataan Mnuchin tersebut
kemudian membuat indeks saham AS anjlok pada perdagangan Jumat (6/4/2018) waktu
setempat. Indeks Dow Jones anjlok lebih dari 570 poin atau 2,3 persen.
"Kita tahu akan ada beberapa fluktuasi, namun pada saat yang sama Presiden
menyatakan cukup adalah cukup. China harus mengubah praktik ilegal dan tak adil
yang selama ini mereka lakukan," sebut Sekretaris Pers Gedung Putih Sarah
Sanders. (Diberitakan oleh kompas.com 01 April 2018)
Referensi
Buku :
Hill, C. W., Wee, C. H., & Udayasankar, K..
2014. Bisnis Internasional : Perspektif
Asia. Buku 1. Jakarta : Salemba Empat.
Website :
http://pepnews.com/2018/03/25/perang-dagang-amerika-serikat-tiongkok-pun-mulai-berkobar/
https://ekonomi.kompas.com/read/2018/03/15/141500626/perang-dagang-as-china-memanas
https://ekonomi.kompas.com/read/2018/03/03/130653426/trump-perang-dagang-bagus-dan-mudah-dimenangkan
https://ekonomi.kompas.com/read/2017/03/22/160700626/gara-gara.as.perang.dagang.dan.perang.mata.uang.di.depan.mata.
https://ekonomi.kompas.com/read/2018/03/08/134036926/soal-tarif-impor-as-china-siapkan-kebijakan-balasan
http://www.bbc.com/indonesia/dunia/2016/05/160502_dunia_cina_trump
http://www.bbc.com/indonesia/dunia-43282850
https://m.kontan.co.id/news/efek-buruk-perang-dagang-as-china

.png)